Jumat, 11 Desember 2009

Mahasiswa Krisis Moral, Kampus Krisis Kredibilitas

Oleh Pion Ratulolly
Pos Kupang Rabu, 18 November 2009 | 01:13 WITA
HARI Kamis (12/11/2009), kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang kembali mengalami prahara. Sekitar pukul 10.00 Wita, kalangan sivitas akademika Undana Kupang, terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jalan Adi Sucipto, Penfui dikejutkan dengan peristiwa tawuran antarmahasiswa Fakultas Sains dan Teknik (FST) dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Berdasarkan pengamatan penulis, kronologi peristiwa ini bermula dari segerombolan mahasiswa bermotor - yang kemudian diketahui berasal dari FST - berhenti di halaman jurusan Pendidikan Teknik (PTK) lalu memukul beberapa mahasiswa yang ada di sekitar halaman jurusan PTK. Tanpa perlawanan berarti akhirnya gerombolan ini pulang lalu datang lagi dalam jumlah yang lebih besar. Menyaksikan kondisi ini, mahasiswa dari jurusan PTK ditambah dengan mahasiswa dari FKIP lainnya menghadang mahasiswa FST dengan hujan batu.
 
Belum diketahui secara pasti modus terjadinya tawuran ini. Tetapi pertikaian ini telah mengakibatkan seorang mahasiswa jurusan PTK terluka terkena lemparan batu. Tiga mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (PBS) pingsan karena kaget melihat peristiwa ini. Keempat korban ini kemudian diamankan di ruangan Program Studi (Prodi) Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah dan mendapat perawatan seadanya dari beberapa mahasiswa dan dosen.
 
Hiruk pikuk dan berhamburan para mahasiswa yang lari menyelamatkan diri begitu nanar dalam pandangan. Para mahasiswa terlihat bersama-sama mengambil batu lalu saling melempar. Sedangkan para mahasiswi sibuk mencari perlindungan di sekitar kampus agar tidak terkena risiko tawuran. Para penjual makanan di kantin kampus pun terlihat panik, sibuk mengemas barang dagangannya. Bahkan beberapa barang dagangan seorang ibu di kantin itu ikut terkena lemparan batu. Sementara itu, aktivitas perkuliahan untuk sementara di ruangan sekitar PTK terganggu dan kemudian diberhentikan. Praktis, dalam sekejap keadaan menjadi tidak lagi terkontrol. Untungnya, dalam beberapa jam kemudian aparat Kepolisian Resort Kota (Polresta) Kupang beserta pihak rektorat datang menyelesaikan pertikaian ini.  
 
Padahal, dalam ingatan kita rasanya masih menyisahkan trauma yang amat mendalam tatkala, Senin (17/11/2008), tahun lalu di bulan yang sama (November sebagai bulan yang di dalamnya terdapat Hari Pahlawan?), terjadi tawuran antarmahasiswa Politeknik Negeri (Poltek) Kupang dengan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Undana. Peristiwa ini juga mengakibatkan seorang mahasiswi FISIP Undana, Cicilia Radja (18), meninggal karena serangan jantung, dua oknum polisi terluka akibat lemparan batu massa.
 
Dua prahara di atas memaksa kita untuk sejenak melakukan introspeksi dan evaluasi, sejauh mana akar permasalahannya lantas menyuguhkan solusi konkrit. Upaya ini tidak hanya sebagai pengobat setelah terjadinya tawuran, namun sekaligus sebagai langkah preventif.

Kedirian mahasiswa
 
Esensinya, mahasiswa memiliki tiga fungsi strategis, yakni 1) Penyampai kebenaran (agent of social control), 2) Agen perubahan (agent of change), dan 3) Generasi penerus masa depan (iron stock). Penyampai kebenaran sebagaimana kita saksikan di sekitar kita bahwa mahasiswa merupakan elemen yang paling peka merespon problematika bangsa yang menyangkut kepentingan masyarakat umum. Begitu banyak kegiatan yang dijalankan, mulai dari diskusi, seminar sampai pada demonstrasi untuk memperjuangkan kebenaran. Mahasiswa sebagai agen perubahan dimaksudkan bahwa dalam mengadakan sebuah perubahan yang holistik dan sistematik demi kemaslahatan bersama, maka mahasiswa memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk itu. Sedangkan mahasiswa sebagai generasi penerus masa depan artinya mahasiswa selalu responsif, dinamis dan fleksibel dalam menyikapi setiap perkembangan bangsa dari masa ke masa.
 
Di samping itu, mahasiswa juga memiliki desain kerangka berpikir yang mumpuni, antara lain ilmiah, kritis analitis, rasional, obyektif dan sistematik. Realisasinya, mahasiswa menjadi elemen terpenting dari perjalanan historis suatu bangsa. Kondisi ini sangat tampak ketika mahasiswa berupaya merespon persoalan pubik dengan menetapkan kedudukan sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan benar tidaknya perjalanan suatu bangsa.
 
Hal ini juga diperkuat dengan pengakuan publik bahwa mahasiswa pasti orang berilmu dan orang berilmu pasti menjalankan segala amalan secara ilmiah. Pandangan ini dibenarkan dengan tujuan dari pembelajaran ilmu itu sendiri, yakni sebagai sarana untuk mengubah perilaku. Tentunya perilaku yang dimaksud adalah perilaku yang bersifat positif. Lalu apakah kedua tawuran ini menjadi implementasi dari keabsolutan teori di atas?

Krisis moralitas
 
Barangkali ribuan, bahkan jutaan teori yang disebarluaskan untuk membesar-besarkan entitas mahasiswa tersebut seakan menjadi peninaaboboan yang sistematik sehingga mahasiswa semakin merasa hero, kemudian terlena dengan segala jas-jas kebesaran. Parahnya, lantaran preseden positif yang diciptakan publik tersebut kemudian memunculkan sikap superego, bahkan superior bahwa mahasiswa berada di atas segalanya. Segala yang berasal dari mahasiswa adalah kebenaran. Ironisnya, kebenaran seakan menjadi topeng yang amat manis di balik tingkah laku bopeng mahasiswa yang demikian miris sekaligus memrihatinkan.
 
Akhir-akhir ini mahasiswa secara parsial memahami eksistensinya sebagai kalangan yang tak terkalahkan, sementara roh yang ada di balik eksistensinya menjadi kian kamuflase. Faktanya, sebagian mahasiswa jarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pembentukan kepribadian, baik melalui organisasi intra maupun ekstra kampus. Kalangan ini yang dengan jiwa korsa atas panggilan solidaritas yang negatif kemudian dengan sedikit congkak membentuk sebuah 'komunitas non akademik sekaligus non intelektual' yang dikenal dengan 'geng atau danger kampus'. Dari geng-geng inilah peristiwa seperti miras (minuman keras) dan anarkisme menjadi halal dan dipamerkan sebagai aset mereka yang amat berharga laksana intan yang senantiasa berkilau meski tersembunyi di balik lumpur.  Ujung-ujungnya, tawuran tidak lagi menjadi hal yang baru, apalagi mengerikan, bagi kalangan ini. Bahkan tawuran sudah sampai pada tahap kebutuhan. Imbasnya, krisis moralitas (segelintir) mahasiswa ini menjadikan krisis bagi kampus itu sendiri.

Siapa bertanggung jawab?
 
Lantas siapakah yang harus bertanggung jawab atas persoalan ini?  Berbicara mengenai tanggung jawab, maka lapisan pertama yang paling bertanggung jawab adalah mahasiswa itu sendiri sebagai subyek sekaligus obyek. Pertanggungjawabannya dapat dilakukan secara personal maupun kolektif. Secara personal dilakukan oleh masing-masing pribadi mahasiswa itu sendiri. Caranya, hendaknya setiap mahasiswa berupaya melakukan refleksi secara kontemplatif dengan memahami kembali esensi keberadaan mahasiswa itu sendiri, baik dalam tataran intelektual maupun moralitas. Setelah upaya ini dilakukan, maka diharapkan bisa menghasilkan energi positif sehingga mampu memberikan efek positif pula kepada sesamanya.
 
Tanggung jawab mahasiswa secara kolektif hendaknya dimulai dari kalangan organisasi kemahasiswaan, terutama ormawa (organisasi kemahasiswaan, dimulai dari himpunan mahasiswa jurusan sampai ke badan eksekutif mahasiswa maupun badan legislatif mahasiswa) sebagai organisasi intra kampus. Kenyataan selama ini membuktikan bahwa ormawa kurang (bukan berarti tidak) menjalankan program-program yang bermuara pada peningkatan IMTAQ (Iman dan Taqwa) bagi setiap mahasiswa. Jangan pernah menganggap remeh bahwa kegiatan IMTAQ kurang memberikan kontribusi. Nah, di saat mengalami peristiwa semacam ini baru kita tersadar betapa pentingnya kegiatan bernuansa IMTAQ tersebut dalam tubuh ormawa.
 
Berikutnya adalah dibutuhkan peran nyata dari pihak universitas, dalam hal ini rektor, dalam upaya untuk melakukan pembinaan kompetensi SDM mahasiswa. Kompetensi yang dimaksud tidak hanya meliputi pengetahuan (kognitif) tetapi juga sikap (afektif) dan keterampilan (skill). Kompetensi ini haruslah dibangun secara sinergis dan memiliki daya dukung antarsatu dengan lainnya. Caranya, universitas berusaha mengembangkan bakat dan minat setiap mahasiswa di bidangnya masing-masing. Sebagai contoh, setiap jurusan dan program studi hendaknya diberikan dukungan baik secara moril maupun materil dalam rangka pengembangan potensi. Misalnya kalau ada mahasiswa dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia yang ingin menerbitkan buku novel atau kumpulan puisi, sepatutnya diberikan dukungan. Nah, strategi ini dilakukan sebagai upaya untuk merangsang mahasiswa lainnya agar terpacu untuk berkarya di kemudian hari dan tidak lagi terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah. Konkritnya, membentuk sebuah persepsi 'lebih baik mahasiswa berkarya daripada bertawuran.'
 
Eleman yang berikutnya yang paling bertanggung jawab adalah orangtua dan masyarakat. Baik tidaknya seseorang biasanya dimulai dari dalam rumah. Seseorang akan terlihat memiliki perangai yang baik dan penuh sopan santun merupakan implikasi dari baik dan sopan santun yang ia terima dari dalam rumah. Begitu pun sebaliknya. Dengan demikian, maka penanaman moralitas hendaknya dimulai dari dalam rumah.  Di samping itu, peran serta masyarakat pun sangatlah menentukan baik tidaknya moralitas seorang mahasiswa. Masyarakat di sini dapat dipahami secara luas. Baik dari kalangan tokoh masyarakat, agamawan, LSM maupun pemerintah. Yakinlah bahwa persoalan moralitas (apalagi pembelajaran) tidak pernah mengenal kata terlambat. Sekalipun seorang mahasiswa yang secara usia dapat dikatakan telah mapan, bukan berarti terlambat untuk dibekali moralitas yang etis.

Kredibilitas kampus
 
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya tawuran mahasiswa dengan dua peristiwa yang menimpa keluarga besar  Undana dua tahun terakhir ini disebabkan oleh krisis moralitas mahasiswa yang berujung pada krisis kredibilitas kampus. Maka kondisi ini mengharuskan tanggung jawab dari kita semua, tidak hanya sivitas akademik Undana, namun kepada kita semua warga masyarakat Nusa Tenggara Timur.  Dengan demikian diharapkan kredibilitas kampus senantiasa terjaga, bahkan semakin harum, baik di tingkat lokal maupun nasional, bahkan internasional sebagaimana visi Undana "Berpikir Global, Bertindak Lokal". *


Mahasiswa FKIP Undana Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com