Jumat, 11 Desember 2009

Mahasiswa : Antara Gaya Hidup Pop dan Tradisi Akademik

Oleh Dr. Marsel Robot
Pos Kupang Senin, 7 Desember 2009 | 00:23 WITA
WILBUR Schramm pernah mengutip tamsil seperti ini, pada zaman Yunani dahulu, ada sebuah akademi yang memberikan kuliah selama tiga tahun. Mahasiswa tingkat pertama disebut orang bijak. Mahasiswa tingkat dua dipanggil filosof. Artinya, orang yang ingin menjadi bijak. Mahasiswa tingkat tiga disebut mahasiswa saja. Artinya, orang yang sudah cukup lama belajar sehingga mengetahui betul betapa pentingnya belajar dan belajar (lihat Mulyana dan Rachmat,1996:1).
Dan barangkali mahasiswa kita dewasa ini seperti itu, menjadi mahasiswa merasa  sudah cukup pintar, cukup dengan secarik kertas  di saku jean's sekadar iseng pergi kuliah,  atau sebagai simbol kehebatan, belajar sedikit seakan tahu banyak. Padahal, makin banyak kita belajar makin banyak pula yang kita tidak tahu. Orang belajar persis orang haus yang meminum air laut, semakin diminun semakin haus. Sampai-sampai Socrates mengatakan, "Yang aku tahu adalah bahwa  aku semakin tidak tahu apa-apa."

Hari-hari ini lorong ke kampus demikian remang. Pada suatu ujung lorong ada gelak tawa dan  sorak sorai, kepesonaan yang tampak banal, perayaan-perayaan di ruang rutin yang amat simplisits, ya, semacam  gaya hidup yang kadang tidak jauh dari orang brandal. Gestrek motor di jalan-jalan kampus, geng-gengan pojok-pojok kampus, minum kopi dan sopi di emperan kampus, gaya rambut jabrik buat nyentrik, bahkan sampai hal yang memilukan dan memalukan ialah perkelahian dan kerusuhan antarmahasiswa. Atap dunia akademik  bagai runtuh atau tepatnya diruntuhkan. Pada ujung lain, ada semacam kesedihan yang  tak tertahankan, sebab, habitus kampus seperti diskusi, membaca, berdebat, kebiasaan seminar, kebiasaan bertanya, kebiasaan mengeksplorasi, kebiasaan mengelaborasi, kebiasaan menulis, kebiasaan mengunjungi perpustakaan menjadi hal yang tidak penting.

Istilah gaya hidup pop, lazimnya dikonotasikan dengan instan, sesaat dan terkadang sesat, cengeng, permukaan, dan kacangan. Gaya hidup seperti itu cukup kuat siang-malam mengepung dunia kampus (baca mahasiswa). Asyiknya pula, yang dikepung merasa rela dan justeru sangat menikmatinya. Gaya hidup yang ngepop dan hura-hura (main HP, laptop, tunjuk mode untuk urusan yang tidak penting), mahasiswa lebih ramai ke mall daripada ke perpustakaan, mahasiswa lebih senang  duduk gerombolan minum sopi daripada diskusi. Namun, mengandrungi gaya hidup pop bukanlah dosa, apalagi terkutuk. Itu memang tipikal khas anak muda. Akan tetapi, gejala itu menjadi penting  apabila dapat memfasilitasi semangat ilmiah dan mendorong pada kualitas diskursif dan bukan destruktif. Dia hanya bermanfaat  jikalau  yang pop itu diberi pendasaran atau setidaknya diimbangi dengan sikap akademis.

Watak dasar yang dibangun gaya hidup  pop adalah hedonistik (menikmati yang bersifat kebendaan) dan konsumtif. Rahman Munawar mengatakan, "Ngepop berarti pola konsumsi yang telah dan akan dibentuk oleh kekuasaan pasar lewat media pencitraannya saat ini." Itulah sebabnya Theodore W Adorno menuduh  budaya pop  berkorelasi dengan kultur industrial. Selera materialistik atau rasa hasrat (hedonistik). Gaya hidup pop secara endemik menggiring mahasiswa ke dalam gorong-gorong fetistik (selera materialisitik atau  hasrat kuat pada citra benda). Sampai pada hal yang menggelikan, membeli barang tidak berdasarkan kegunaan dan kebutuhan tetapi berdasarkan rasa eksentrik, eye catching, modus ungkap kemodernan atau berfungsi untuk memproduksi label be have misalnya. Terkadang buku-buku dan diktat ditenteng hanya sekedar memproduksi pesan bahwa dia mahasiswa, mirip perilaku seorang petani yang membeli sebuah kulkas  di pajang ruang depan sekedar memberitahukan bahwa 'saya orang berada.' Mengutamakan citra artifisial melalui unsur visual dan bukan karena fungsi dan kualitas diskursifnya.

Tentu gejala ini tidak cukup bagi saya berkata  dengan  tenang bahwa tradisi akademis sedang sekarat, lalu kaum akademikus terseok di lorong remang menuju kampus yang kian mampus. Mahasiswa-mahasiswa yang berjalan di kampus, di aula, di laboratorium di lobi kampus adalah kaum muda yang sedang mengadakan perayaan dan selebrasi tentang sebuah habitus baru di kampus.

Terkadang, perayaan gaya pop di ruang rutin dan ritual kuliah yang membosankan  lantaran monisme metodologis sang dosen merupakan unsur kurang ajar dalam mengajar  dari dosen. Dan yang agak lata, birokrat kampus sendiri juga terjebak dalam gaya hidup pop yang  tidak populis. Lebih mengutamakan pembangunan gapura daripada membenahi penerbitan yang amburadul dan membangun toko buku kampus. Bagaimana kultur akademis bisa hidup dan merimbun di kampus, sedangkan sarana yang menjadi sumber-sumber atau pusat pertumbuhan kultur keilmuan seperti perpustakaan, internet, media kampus dan penerbit  tidak memfasilitasi habitus kampus itu? Belum lagi, lingkungan kampus yang, ah,  malu deh  menyebutkannya. Hamparan sampah bertebaran di lingkungan bergengsi itu, gedung-gendung yang tak terawat dan  memang mutunya rendah  membuat sempurnanya kebangkrutan habitus  kampus bagi homo academicus. *



Dosen FKIP Undana, doktor dalam bidang ilmu komunikasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com